Rakyat Kecil Hanya Bersuara, Jangan Dibungkam

(Poetry-TulisanTaa) Bendera Merah Putih itu memang berkibar bebas di udara, tapi kenyataannya warga negaranya sedang tidak dalam keadaan merdeka seperti yang kelihatannya. 

Sumber: Kompas.com



Satu demi satu kejahatan pemerintah mulai menguak ke permukaan, menangkap bagi siapa saja yang menjadi pelaku atas kejahatan itu, pernyataan demi pernyataan tayang di media menjadi hidangan rakyat Indonesia sehari-hari. 

Berita baik tertutup dengan konflik-konflik curang akan pejabat pemerintah dan angkatan bersenjata yang terus menerus mencetak rekor melakukan hal di luar batas hukum. Entah mengapa, seperti tidak ada rasa habisnya permainan teater busuk ini di negara yang katanya merupakan negara demokrasi. 

Sesekali bersuara, namun dibungkam jutaan kali cara agar mereka dihantui rasa takut dan bersembunyi di balik dinding kecil yang tak seberapa. Padahal, mereka sebagai rakyat hanya menyuarakan apa yang selama ini mereka rasa tidak adil. 

Rakyat hanya bersuara, bukan meminta perang dunia. Mereka hanya ingin didengar, bukan ditindak anarkis. Mereka hanya ingin ditemui dan diajak berdiskusi bukan disiram layaknya melawan anjing jalanan. 

Pikiran rakyat Indonesia kini semakin kritis, suaranya mulai menggelegar tinggi, nyalinya tak pernah sedikit pun ciut, bahkan nyawa menjadi taruhannya untuk bisa mendapatkan hak mereka sebagai warga negara. 

Turun, turun, turun dari jabatan tinggi itu jika memang merasa tak mampu mengurus negara ini. Rakyat turun aksi, berarti pemerintahan sedang tidak baik-baik saja. 

Renungkan. Pikirkan. Jika ada salah, akui kesalahan itu. Perbaiki dan cari solusinya, bukan melarikan diri dan memberikan pernyataan yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan hal yang ditangguhkan masalahnya. 

Semua berhak bersuara, semua berhak dikritik, semua berhak menerima kritikan itu, namun rakyat Indonesia tidak boleh dipaksa diam saat negaranya hampir hancur. 

Tetaplah mengudara bendera Merah Putih, tetap jadi kumpulan rakyat yang peduli akan negaranya sendiri, jangan menunggu rasa sesal setelah memutuskan untuk bodo amat tentang apa yang terjadi dunia politik ini, dan tetap bersuara walaupun tak didengar. 

Ini berasal dari kegelisahan hati seorang warga sipil, rakyat biasa, anak muda yang berupaya keluar dari kesengsaraan di kemudian hari.  



Penulis: Dita Mawanda
Editor: Dita Mawanda

Posting Komentar

0 Komentar